Sekarang gue seneng banget. Gue udah tau nama gadis itu. Gadis yang selalu gue impikan. Tapi ada juga yang bikin gue gak seneng. Gue harus jalan kaki dari mall sampai ke rumah dengan dua kucrut yang tidak pernah membantu gue. Jarak dari mall sampai ke rumah adalah 6 km. Pas pulang-pulang gue langsung sekarat. Busa keluar dari mulut gue. Gue hampir mati.
Begitu juga dengan Angga Anggi. Mereka lebih parah dari gue. Yang keluar dari mulut mereka bukan busa, tapi pete. Jijik. Bau lagi. Udah gitu numpang di rumah gue lagi. Gak tau malu. Udah gitu, gue harus tidur di lantai lagi. Untung bokap gue masih kerja. Kalo ketahuan, mereka bisa dibunuh.
Gue masih mikirin si Dinda. Dia lagi apa ya? Tadi gue belom sempet nanyain pin BB-nya. Eh, mungkin dia punya Facebook. Gue cari aja dia di Facebook. Gue langsung buka hape. Oh iya. Hape gue kan Sony Erricson. Di Sony Errison ada BBM gak ya? Kalo kalian tau, bisa jawab di bagian komentar
Keesokan harinya gue sekolah seperti biasa. Mengikuti pelajaran seperti biasa. Dan bengong seperti biasanya. Gue masih belom tau dimana kelas si Dinda. Tapi gak lama lagi gue pasti ketemu dengan dia. Gue jadi gak sabar. Pengen cepet-cepet ketemu dia. Dan mengatakan I Love U.
Tapi gimana kalo dia nolak? Gimana kalo dia gak tertarik sama gue?
Enggak, enggak. Dia pasti tertarik. Positive Thinking. Muka gue kan 11-12 sama Justin Bieber. Dia gak bakal nolak gue. Pasti dia suka sama gue. Kalo dia nolak gue, mata dia pasti katarak. Apa enggak Rabun jauh.
Bel berbunyi. Tanda untuk istirahat. Semua murid menyerbu kantin belakang. Bahkan guru-guru pun ikut istirahat. Mungkin inilah saat yang paling membahagiakan bagi para pedagang. Tapi ini juga saat-saat membingungkan bagi para pedagang yang tidak mempunyai ilmu matematika.
Waktu itu gue pernah beli mie, gue ngasih duit goceng. Kembaliannya malah 50.000. Apa gak bego? Mungkin tuhan sedang memberi gue cobaan. Tapi sebagai murid teladan, gue harus bertindak secara jantan. Gue harus ngembaliin duit itu.
"Ibu, maaf." Kata gue "Ini kembaliannya kelebihan."
"Oh makasih ya dek." Jawab ibu itu "Kamu murid paling jujur. Memang kembaliannya harusnya berapa?"
"Seratus Ribu."
Setelah itu gue langsung ditampar.
Dan sampai sekarang, ibu itu selalu menganggap gue sebagai Murid Korupsi. Setiap ibu itu ngeliat gue, gue selalu ditampar habis-habisan. Gue gak boleh jajan lagi disitu.
Beberapa menit kemudian, bel berbunyi. Menandakan waktu istirahat sudah habis. Semua murid masuk kedalam kelas mereka masing-masing. Sial, sekarang adalah pelajaran Kang Bahar. Guru tersadis di alam semesta. Ketika Kang Bahar masuk semuanya pada diam. Hening. Kang Bahar melihat-lihat ruang kelas kami dari ujung sampai ke ujung. Dia memeriksa setiap inci. Setiap langkah kakinya selalu membuat kami takut. Kemudian terdengar suara pintu kelas kami di ketuk-ketuk.
"Masuk." Ujar kang Bahar
Kemudian seseorang membuka pintu. Dia adalah seorang wanita. Dia memakai seragam putih biru seperti kami. Kelihatannya dia murid pindahan. Dia cantik. Rambutnya panjang hitam mengkilat. Seperti bintang iklan produk sampo.
"Perkenalkan dirimu." Ujar kang Bahar
"Salam kenal, nama saya Eka Nadya. Senang bertemu kalian." Ujar Eka
"Anak-anak, Eka adalah murid pindahan dari Bandung. Nah, Eka. Sekarang duduklah disamping orang hitam yang mirip dengan gorrila itu." Ujar kang Bahar sambil menunjuk kepadaku
Disitu terkadang saya merasa sedih.
Eka duduk disebelahku. Dilihat dari sisi mana pun dia tetap cantik.
Bel berbunyi kembali. Menandakan pelajaran telah usai. Kang Bahar meninggalkan kelas dengan wajah masam. Setelah itu kita teriak gembira. "Merdeka . . ." Akhirnya perang dunia ketiga telah usai. Dua jam kita harus bertahan hidup dari serangan-serangan rumus bom atom yang membuat kepala meledak. Merdeka ! !
Di perjalanan pulang, gue melihat Eka sedang melamun di pinggiran sungai. Moga-moga aja dia gak bunuh diri setelah melihat gue. Ya udahlah, daripada dia bunuh diri, Gue abaikan aja dia. Gue berjalan melewatinya. Setelah itu . . .
"Nama kamu Kumal kan?" Ujar Eka
"Eh, Eka. Iya gue Kumal. Lo lagi ngapain?"
"Mmm . . Gak apa-apa sih. Aku lagi ngelamun. Rumah kamu dimana?"
"Di Komplek Briya."
"Wah, se arah dong. Mau bareng, gak?"
"Boleh, boleh."
bersambung . . .
Penasaran ? Tunggu kelanjutannya
So Dont forget to follow me okay
Because i will write another comedy story
Thank's for reading
See you next time:(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar