Kamis, 08 September 2016

KUMAL'S CURHAT #1 - BULLY

Hey, bagaimana hari kalian? Menyenangkan? Menyedihkan? Mengesalkan? Atau Menakutkan?

Kali ini gue akan sedikit curhat tentang masalah yang gue rasakan. 
-
-
-

Pernah gak sih lo di bully banyak orang? Pernah gak dikatain monyet, kerbau atau anoa. Mau itu dirumah, di sekolah ataupun di tempat umum? 

Kalo bicara soal itu, gue salah satunya. Gue jadi korban bully-an mereka. Mungkin bukan cuman gue satu-satunya orang di dunia ini yang pernah di bully. Mungkin banyak orang lain yang merasakannya seperti yang gue rasakan. Mungkin juga ada yang lebih parah dari gue.


Mereka ngehina gue kayak gak ada beban sama sekali. Seolah-olah gue ini cuman tempat pelampiasan kesenangan mereka. Gimana ya? Mungkin yang mereka sama gue rasakan itu berbeda. Menurut mereka itu candaan, tetapi menurut itu gue hinaan.
-
-
-
Murid, temen, bahkan guru-pun ikut membully gue. Yang bikin kesel tuh ketika guru ikut membully. Bukan dengan fisik, tapi dari ucapan. Memang nadanya itu bercanda, tapi sakit di hati.

Gue udah gak kuat nahan emosi, gue marah dan pengen ngelawan mereka. Tapi gue rasa itu percuma. Soalnya badan gue kecil. Gue gak sanggup melawan mereka. Malah gue nanti yang babak belur.

Gue adalah orang yang sensitif, yang sedikit-sedikit nangis. Gue memang udah gede. Udah bukan waktunya lagi nangis kayak bayi. Tapi kenapa dengan tangisan itu mereka malah semakin sering ngebully gue, bukannya baikan sama gue.

Yang paling bikin sebel lagi ketika ada seseorang mengatakan "Jangan menangis, dasar pengecut." Sebenernya gue gak nangis, cuman muka gue aja yang menunjukan rasa sedih. Tapi ketika mereka bilang begitu, entah kenapa gue jadi ingin menangis. Lalu gue jadi nangis beneran.

Kejadian seperti itulah yang membuat gue malu. 

Gue heran kepada diri gue sendiri. Kenapa gue sangat mudah untuk menangis? Padahal gue gak mau menangis.
white;">
Gue bukan orang suci yang selalu bisa melaksanakan kewajiban tuhan. Gue bukan orang suci yang selalu bertindak baik kepada orang. Gue bukan orang suci yang selalu bisa menahan amarah. Tapi gue adalah orang biasa yang tidak ingin selalu ditindas.
-
-
-
-

TERIMA KASIH KEPADA KALIAN YANG TELAH MENYEMPATKAN WAKTUNYA UNTUK MEMBACA SEDIKIT CURAHAN HATI GUE.

KALAU MENURUT KALIAN ARTIKEL INI BAGUS, MOHON DI SHARE KE TEMEN KALIAN
KALAU MENURUT KALIAN ARTIKEL INI JELEK, HARUS DI SHARE JUGA

Senin, 05 September 2016

A One Day With Kumal #5 - Tips Mengatasi Patah Hati + Mendapatkannya Kembali

Hey, bagaimana hari kalian? Menyenangkan? Menyedihkan? Mengesalkan? Atau Menakutkan?

Jangan khawatir bila hari kalian selalu tidak menyenangkan. Seperti selalu dimarahi bos atau disuruh mengerjakan soal matematika. Santai saja, Karena hari harus dilewati, bukan untuk disesali. Hari ini adalah masa lalu, hari esok adalah masa depan. Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi masa depan selalu berubah. 

Minggu, 04 September 2016

KUMAL STORY : PRAMUKA PART 3 - SKILL PRAMUKA (SPECIAL STORY)




Kami mengikuti latihan seperti biasanya. Pada siang hari, peserta berlatih membaca bendera semaphore. Semaphore adalah sepasang bendera yang didalamnya memiliki arti tersembunyi. 

Sepertinya gue paling bodoh diantara yang lain. Ya, gue memang gak bisa apa-apa didalam pramuka. Gue cuman ingin mengikuti perkemahan nya saja.

Seluruh anggota pramuka berjumlah 20 orang. Dari 20 orang itu dibuat regu yang masing-masing beranggotakan 5 orang. Berarti ada 4 regu. Masing-masing regu harus mempunyai 1 orang pemimpin. Pemimpin regu itu dipilih oleh anggotanya. Pemimpin regu gue adalah Adi.

Selain perkemahan terdapat juga lomba-lomba. Setiap regu yang memenangkan lomba akan mendapat Piala. Yang diperlombakan antara lain ; Materi Pramuka,PBB, Praktek P3K dll.


Adi lebih jago Pramuka daripada gue. Sejak SD dia sudah ikut Pramuka. Pada saat kelas 4 SD, dia pernah menjadi juara Danton/Pinru. Tidak hanya itu, ada banyak sekali piala yang sudah dia dapat. Dia membuat prestasi di sekolahnya. Tapi dia tidak sombong. Meskipun mendapat banyak piala, dia hanya diam saja seolah-olah itu cuman benda yang tidak berharga. Katanya, Pramuka itu tidak pernah mengajarkan "melebihi omongan daripada apa yang kita dapat." 

Kalau gue jadi dia, gue bakal memamerkan piala gue ke setiap orang. Tapi, prestasi gue apa? Dirumah, gue cuman melakukan tiga M, yaitu ; makan, minum, main.

Gue gak bisa apa-apa, bakatpun gue gak punya. Andai saja ada sesuatu hal yang lebih dari diri gue.
.
.
.
Ada 4 regu, yaitu elang, gagak, kelinci. Gue tergabung di regu keempat, yaitu regu kecoa. Regu kecoa adalah regu langka yang jarang ditemui orang. Selain gue dan Adi, terdapat 3 anggota lainnya, yaitu Angga, Anggi dan Farhan. Kita semua masih kelas 7.

Jam menunjukan angka 5. Itu waktunya istirahat bagi para peserta. Matahari hampir tenggelam. Suasana menjadi agak dingin dan gelap. Gue dan Adi menuju ke kelas untuk menghangatkan diri. Kelas itu sudah kami dekorasi menjadi semacam markas regu. Jadi setiap regu harus membuat markas mereka masing-masing.

Gue mengeluarkan selimut dari tas. Lalu gue lihat Adi sedang membongkar-bongkar tasnya. Merogohi sakunya. Semua barang dari tas-nya dikeluarkan. Kelihatannya dia sedang mencari sesuatu.

Gue bertanya ;

"Kenapa Di?"

"Gue lupa bawa gentong untuk dimainkan di Pensi nanti malam Mal, Gimana Mal?"

"Ya elah cuman masalah gitu. Tenang aja, gue bawa dua kok."

"Gue boleh pake?"

"Ya bolehlah."

"Makasih Mal."

Lalu gue jawab dengan nada sok pinter ;

"Jangan terima kasih ke gue."

"Terus ke siapa?" Ujar Adi

"Lu punya tuhan? Terima kasihlah ke tuhan lo. Gue itu cuman perantara."
.
.
.
.
.
Walaupun gelap, perlombaan tetap dimulai.

Masing-masing regu harus memperebutkan sebuah kertas yang bertuliskan "PRAMUKA" Kertas itu berjumlah 3 buah. Tiap regu hanya diperbolehkan membawa senter. Regu yang tidak bisa menemukan kertas itu akan dihukum.  Tiga regu yang berhasil menemukannya akan diperlombakan kembali memperebutkan juara 1. Waktu untuk mencarinya cuman selama 30 menit.

"Mengerti?" Ujar Pelatih

"Mengerti." Jawab kami serentak

"Mulai."

                                                                      BERSAMBUNG . . .