![]() |
| sumber : www.solopos.com |
Minggu, 11 September 2016
Kamis, 08 September 2016
KUMAL'S CURHAT #1 - BULLY
Hey, bagaimana hari kalian? Menyenangkan? Menyedihkan? Mengesalkan? Atau Menakutkan?
Kali ini gue akan sedikit curhat tentang masalah yang gue rasakan.
-
-
-
Pernah gak sih lo di bully banyak orang? Pernah gak dikatain monyet, kerbau atau anoa. Mau itu dirumah, di sekolah ataupun di tempat umum?
Kalo bicara soal itu, gue salah satunya. Gue jadi korban bully-an mereka. Mungkin bukan cuman gue satu-satunya orang di dunia ini yang pernah di bully. Mungkin banyak orang lain yang merasakannya seperti yang gue rasakan. Mungkin juga ada yang lebih parah dari gue.
Mereka ngehina gue kayak gak ada beban
sama sekali. Seolah-olah gue ini cuman tempat pelampiasan kesenangan
mereka. Gimana ya? Mungkin yang mereka sama gue rasakan itu berbeda.
Menurut mereka itu candaan, tetapi menurut itu gue hinaan.
-
-
-
Murid, temen, bahkan guru-pun ikut membully gue. Yang bikin kesel tuh ketika guru ikut membully. Bukan dengan fisik, tapi dari ucapan. Memang nadanya itu bercanda, tapi sakit di hati.
Gue udah gak kuat nahan emosi, gue marah dan pengen ngelawan
mereka. Tapi gue rasa itu percuma. Soalnya badan gue kecil. Gue gak
sanggup melawan mereka. Malah gue nanti yang babak belur.
Gue adalah orang yang sensitif, yang sedikit-sedikit nangis. Gue memang udah gede. Udah bukan waktunya lagi nangis kayak bayi. Tapi kenapa dengan tangisan itu mereka malah semakin sering ngebully gue, bukannya baikan sama gue.
Yang paling bikin sebel lagi ketika ada seseorang mengatakan "Jangan menangis, dasar pengecut." Sebenernya gue gak nangis, cuman muka gue aja yang menunjukan rasa sedih. Tapi ketika mereka bilang begitu, entah kenapa gue jadi ingin menangis. Lalu gue jadi nangis beneran.
Kejadian seperti itulah yang membuat gue malu.
Gue heran kepada diri gue sendiri. Kenapa gue sangat mudah untuk menangis? Padahal gue gak mau menangis.
white;">
Gue bukan orang suci yang selalu bisa melaksanakan kewajiban tuhan. Gue bukan orang suci yang selalu bertindak baik kepada orang. Gue bukan orang suci yang selalu bisa menahan amarah. Tapi gue adalah orang biasa yang tidak ingin selalu ditindas.
-
-
-
-
TERIMA KASIH KEPADA KALIAN YANG TELAH MENYEMPATKAN WAKTUNYA UNTUK MEMBACA SEDIKIT CURAHAN HATI GUE.
KALAU MENURUT KALIAN ARTIKEL INI BAGUS, MOHON DI SHARE KE TEMEN KALIAN
KALAU MENURUT KALIAN ARTIKEL INI JELEK, HARUS DI SHARE JUGA
Senin, 05 September 2016
A One Day With Kumal #5 - Tips Mengatasi Patah Hati + Mendapatkannya Kembali
Jangan khawatir bila hari kalian selalu tidak menyenangkan. Seperti selalu dimarahi bos atau disuruh mengerjakan soal matematika. Santai saja, Karena hari harus dilewati, bukan untuk disesali. Hari ini adalah masa lalu, hari esok adalah masa depan. Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi masa depan selalu berubah.
Minggu, 04 September 2016
KUMAL STORY : PRAMUKA PART 3 - SKILL PRAMUKA (SPECIAL STORY)
Kami mengikuti latihan seperti biasanya. Pada siang hari, peserta berlatih membaca bendera semaphore. Semaphore adalah sepasang bendera yang didalamnya memiliki arti tersembunyi.
Sepertinya gue paling bodoh diantara yang lain. Ya, gue memang gak bisa apa-apa didalam pramuka. Gue cuman ingin mengikuti perkemahan nya saja.
Seluruh anggota pramuka berjumlah 20 orang. Dari 20 orang itu dibuat regu yang masing-masing beranggotakan 5 orang. Berarti ada 4 regu. Masing-masing regu harus mempunyai 1 orang pemimpin. Pemimpin regu itu dipilih oleh anggotanya. Pemimpin regu gue adalah Adi.
Selain perkemahan terdapat juga lomba-lomba. Setiap regu yang memenangkan lomba akan mendapat Piala. Yang diperlombakan antara lain ; Materi Pramuka,PBB, Praktek P3K dll.
Adi lebih jago Pramuka daripada gue. Sejak SD dia sudah ikut Pramuka. Pada saat kelas 4 SD, dia pernah menjadi juara Danton/Pinru. Tidak hanya itu, ada banyak sekali piala yang sudah dia dapat. Dia membuat prestasi di sekolahnya. Tapi dia tidak sombong. Meskipun mendapat banyak piala, dia hanya diam saja seolah-olah itu cuman benda yang tidak berharga. Katanya, Pramuka itu tidak pernah mengajarkan "melebihi omongan daripada apa yang kita dapat."
Kalau gue jadi dia, gue bakal memamerkan piala gue ke setiap orang. Tapi, prestasi gue apa? Dirumah, gue cuman melakukan tiga M, yaitu ; makan, minum, main.
Gue gak bisa apa-apa, bakatpun gue gak punya. Andai saja ada sesuatu hal yang lebih dari diri gue.
.
.
.
Ada 4 regu, yaitu elang, gagak, kelinci. Gue tergabung di regu keempat, yaitu regu kecoa. Regu kecoa adalah regu langka yang jarang ditemui orang. Selain gue dan Adi, terdapat 3 anggota lainnya, yaitu Angga, Anggi dan Farhan. Kita semua masih kelas 7.
Jam menunjukan angka 5. Itu waktunya istirahat bagi para peserta. Matahari hampir tenggelam. Suasana menjadi agak dingin dan gelap. Gue dan Adi menuju ke kelas untuk menghangatkan diri. Kelas itu sudah kami dekorasi menjadi semacam markas regu. Jadi setiap regu harus membuat markas mereka masing-masing.
Gue mengeluarkan selimut dari tas. Lalu gue lihat Adi sedang membongkar-bongkar tasnya. Merogohi sakunya. Semua barang dari tas-nya dikeluarkan. Kelihatannya dia sedang mencari sesuatu.
Gue bertanya ;
"Kenapa Di?"
"Gue lupa bawa gentong untuk dimainkan di Pensi nanti malam Mal, Gimana Mal?"
"Ya elah cuman masalah gitu. Tenang aja, gue bawa dua kok."
"Gue boleh pake?"
"Ya bolehlah."
"Makasih Mal."
Lalu gue jawab dengan nada sok pinter ;
"Jangan terima kasih ke gue."
"Terus ke siapa?" Ujar Adi
"Lu punya tuhan? Terima kasihlah ke tuhan lo. Gue itu cuman perantara."
.
.
.
.
.
Walaupun gelap, perlombaan tetap dimulai.
Masing-masing regu harus memperebutkan sebuah kertas yang bertuliskan "PRAMUKA" Kertas itu berjumlah 3 buah. Tiap regu hanya diperbolehkan membawa senter. Regu yang tidak bisa menemukan kertas itu akan dihukum. Tiga regu yang berhasil menemukannya akan diperlombakan kembali memperebutkan juara 1. Waktu untuk mencarinya cuman selama 30 menit.
"Mengerti?" Ujar Pelatih
"Mengerti." Jawab kami serentak
"Mulai."
BERSAMBUNG . . .
Gue gak bisa apa-apa, bakatpun gue gak punya. Andai saja ada sesuatu hal yang lebih dari diri gue.
.
.
.
Ada 4 regu, yaitu elang, gagak, kelinci. Gue tergabung di regu keempat, yaitu regu kecoa. Regu kecoa adalah regu langka yang jarang ditemui orang. Selain gue dan Adi, terdapat 3 anggota lainnya, yaitu Angga, Anggi dan Farhan. Kita semua masih kelas 7.
Jam menunjukan angka 5. Itu waktunya istirahat bagi para peserta. Matahari hampir tenggelam. Suasana menjadi agak dingin dan gelap. Gue dan Adi menuju ke kelas untuk menghangatkan diri. Kelas itu sudah kami dekorasi menjadi semacam markas regu. Jadi setiap regu harus membuat markas mereka masing-masing.
Gue mengeluarkan selimut dari tas. Lalu gue lihat Adi sedang membongkar-bongkar tasnya. Merogohi sakunya. Semua barang dari tas-nya dikeluarkan. Kelihatannya dia sedang mencari sesuatu.
Gue bertanya ;
"Kenapa Di?"
"Gue lupa bawa gentong untuk dimainkan di Pensi nanti malam Mal, Gimana Mal?"
"Ya elah cuman masalah gitu. Tenang aja, gue bawa dua kok."
"Gue boleh pake?"
"Ya bolehlah."
"Makasih Mal."
Lalu gue jawab dengan nada sok pinter ;
"Jangan terima kasih ke gue."
"Terus ke siapa?" Ujar Adi
"Lu punya tuhan? Terima kasihlah ke tuhan lo. Gue itu cuman perantara."
.
.
.
.
.
Walaupun gelap, perlombaan tetap dimulai.
Masing-masing regu harus memperebutkan sebuah kertas yang bertuliskan "PRAMUKA" Kertas itu berjumlah 3 buah. Tiap regu hanya diperbolehkan membawa senter. Regu yang tidak bisa menemukan kertas itu akan dihukum. Tiga regu yang berhasil menemukannya akan diperlombakan kembali memperebutkan juara 1. Waktu untuk mencarinya cuman selama 30 menit.
"Mengerti?" Ujar Pelatih
"Mengerti." Jawab kami serentak
"Mulai."
BERSAMBUNG . . .
A One Day With Kumal #4 - BULLY
Kalian tau kan, gue cuman punya dua temen, yaitu Angga Anggi. Gue gak pernah punya temen dari kecil. Gue lebih seneng sendirian atau main dirumah. Di rumah juga gue kerjanya cuman bengong. Kenapa gue selalu sendiri? Itu karena gue ngerasa gak cocok sama temen-temen gue. Gue sukanya film komedi. Mereka sukanya film horror. Gue sukanya main petak umpet. Mereka sukanya main bola. Gue sukanya melempar sendal ke orang. Mereka sukanya melempar batu bata, krikil, dan batu akik.
Pokoknya gue dan mereka itu gak cocok. Dan ketidakcocokan ini membuat gue merasa terpojok. Kalian tau kan, kalo kalian merasa tidak bisa melakukan apa-apa dengan mereka, mereka akan menjauhi kalian. Itulah yang gue rasakan. Gue selalu jadi pemain pengganti di tim sepak bola. Selalu tidak dianggap. Itu karena gue gak bisa main bola. Sedangkan mereka jago-jago banget.
Gue gak bisa nendang bola. Sekali gue nendang, bolanya menuju ke langit. Ke genteng. Ke gedung. Dan ke bulan. Jadi setiap mereka punya bola baru, mereka gak akan ngajak gue. Karena takut bolanya hilang lagi.
Di luar, gue gak kepake, akhirnya gue main didalem aja. Di dalem rumah gue bisa bebas mau ngapain aja. Mau mecahin gelas, piring dan televisi itu udah biasa. Selalu bermain didalam rumah membuat gue gak bisa bersosialisasi. Gue gak pernah ngobrol, membuat gue menjadi pendiam. Gue gak pernah bermain, membuat badan gue menjadi kurus.
Gue memang gak bisa apa-apa. Gue gak pinter. Gak punya tenaga. Dan gak punya rasa malu. Jangan salah paham, "Gak punya malu" ini bukan berarti gue gak punya otak. Jangan pikir gue selalu telanjang kemana-mana karena gak punya rasa malu. Enggak, enggak. Gue memang punya malu, tapi untuk membuat orang-orang mendekat ke gue, gue harus menghilangkan rasa malu ini.
Dan jangan pikir gue gak punya kemaluan.
Gue selalu melakukan hal-hal yang memalukan, bodoh dan konyol untuk menarik perhatian mereka. Tapi gak seperti dugaan gue, mereka malah menjauhi gue. Mereka malu punya temen seperti gue.
Saat gue masuk SMP, gue baru kenal yang namanya bully. Gue suka di bully sama murid-murid yang geng-geng gitu Gue di bully karena gue lemah. Sepedah gue dirusakin. Bekel gue dimintain. Gue sebenernya mau bales mereka. Tapi gue tau . . . Kalau gue membales mereka, gue bakal kalah. Karena mereka itu kuat-kuat. Gue itu diibaratkan tai kotok, sedangkan mereka adalah langit.Tapi, bukan cuman gue yang di bully, anak-anak lain juga. Terutama yang lemah-lemah.
Hidup gue ini penuh dengan cobaan. Tapi mungkin bukan cuman gue. Mungkin yang lain juga sama. Mungkin ada yang lebih parah dari gue.
Ya, hidup ini seperti rantai makanan. Yang lemah ditindas, yang kuat diatas.
Tapi hidup ini tidak separah seperti yang gue pikirkan. Mungkin gue hanya memikirkan sisi buruknya aja. Mungkin gue bisa ngalahin mereka. Bukan dari fisik, tetapi dari hal-hal yang kita punya. Mungkin gue lebih dari yang gue pikirkan. Gue bodoh. Tapi bukan cuman gue yang bodoh di dunia ini. Dan mungkin gue yang terbaik diantara mereka, tapi gue-nya aja yang gak bisa nunjukin.
Udah gitu aja curhatan dari gue.
So,
Dont forget to follow me okay
Because i will write another comedy story
Thank's for reading
See you next time:(
Tambahan dari gue :
Penafsiran orang itu berbeda-beda. Mungkin bagi mereka itu hanya candaan, tapi bagi kalian itu hinaan dan siksaan. Jadi, jika ada yang membully kalian, jangan dibawa ke hati. Mungkin mereka hanya bercanda. Tapi, kalau kalian mau membalas tetapi tidak berani, balaslah pakai kelebihan yang kalian punya. Tapi ingat, pembalasan pasti ada. Jangan sampai kena masalah
Pokoknya gue dan mereka itu gak cocok. Dan ketidakcocokan ini membuat gue merasa terpojok. Kalian tau kan, kalo kalian merasa tidak bisa melakukan apa-apa dengan mereka, mereka akan menjauhi kalian. Itulah yang gue rasakan. Gue selalu jadi pemain pengganti di tim sepak bola. Selalu tidak dianggap. Itu karena gue gak bisa main bola. Sedangkan mereka jago-jago banget.
Gue gak bisa nendang bola. Sekali gue nendang, bolanya menuju ke langit. Ke genteng. Ke gedung. Dan ke bulan. Jadi setiap mereka punya bola baru, mereka gak akan ngajak gue. Karena takut bolanya hilang lagi.
Di luar, gue gak kepake, akhirnya gue main didalem aja. Di dalem rumah gue bisa bebas mau ngapain aja. Mau mecahin gelas, piring dan televisi itu udah biasa. Selalu bermain didalam rumah membuat gue gak bisa bersosialisasi. Gue gak pernah ngobrol, membuat gue menjadi pendiam. Gue gak pernah bermain, membuat badan gue menjadi kurus.
Gue memang gak bisa apa-apa. Gue gak pinter. Gak punya tenaga. Dan gak punya rasa malu. Jangan salah paham, "Gak punya malu" ini bukan berarti gue gak punya otak. Jangan pikir gue selalu telanjang kemana-mana karena gak punya rasa malu. Enggak, enggak. Gue memang punya malu, tapi untuk membuat orang-orang mendekat ke gue, gue harus menghilangkan rasa malu ini.
Dan jangan pikir gue gak punya kemaluan.
Gue selalu melakukan hal-hal yang memalukan, bodoh dan konyol untuk menarik perhatian mereka. Tapi gak seperti dugaan gue, mereka malah menjauhi gue. Mereka malu punya temen seperti gue.
Saat gue masuk SMP, gue baru kenal yang namanya bully. Gue suka di bully sama murid-murid yang geng-geng gitu Gue di bully karena gue lemah. Sepedah gue dirusakin. Bekel gue dimintain. Gue sebenernya mau bales mereka. Tapi gue tau . . . Kalau gue membales mereka, gue bakal kalah. Karena mereka itu kuat-kuat. Gue itu diibaratkan tai kotok, sedangkan mereka adalah langit.Tapi, bukan cuman gue yang di bully, anak-anak lain juga. Terutama yang lemah-lemah.
Hidup gue ini penuh dengan cobaan. Tapi mungkin bukan cuman gue. Mungkin yang lain juga sama. Mungkin ada yang lebih parah dari gue.
Ya, hidup ini seperti rantai makanan. Yang lemah ditindas, yang kuat diatas.
Tapi hidup ini tidak separah seperti yang gue pikirkan. Mungkin gue hanya memikirkan sisi buruknya aja. Mungkin gue bisa ngalahin mereka. Bukan dari fisik, tetapi dari hal-hal yang kita punya. Mungkin gue lebih dari yang gue pikirkan. Gue bodoh. Tapi bukan cuman gue yang bodoh di dunia ini. Dan mungkin gue yang terbaik diantara mereka, tapi gue-nya aja yang gak bisa nunjukin.
Udah gitu aja curhatan dari gue.
So,
Dont forget to follow me okay
Because i will write another comedy story
Thank's for reading
See you next time:(
Tambahan dari gue :
Penafsiran orang itu berbeda-beda. Mungkin bagi mereka itu hanya candaan, tapi bagi kalian itu hinaan dan siksaan. Jadi, jika ada yang membully kalian, jangan dibawa ke hati. Mungkin mereka hanya bercanda. Tapi, kalau kalian mau membalas tetapi tidak berani, balaslah pakai kelebihan yang kalian punya. Tapi ingat, pembalasan pasti ada. Jangan sampai kena masalah
Langganan:
Postingan (Atom)



